Selasa, 10 Februari 2015

JEJAK TUHAN DI TANAH LABUAJA DAN LEMBANG


Sabtu sore, 31 Januari 2015. Hari itu saya kembali ingin menelusuri jejak kekuasaan Tuhan yang maha luas. Sasaran saya kali ini adalah Kampung Labuaja. Sebuah kampung dengan panorama yang indah nan sejuk. Kampung ini terletak di Desa Layya, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.

Selepas menyelesaikan tugas final test di Kampus, sepertinya petualangan kali ini memang pas sebagai bentuk refreshing. Mengembalikan kejernihan otak yang selama kurang lebih 3 minggu terakhir terkuras. Belum lagi proses penyelesaian tugas akhir yang sudah di depan mata, membuat saya harus memanfaatkan momen libur musim ini sembari meresapi bukti kuasa tuhan yang terpapar luas di Kampung Labuaja.

Berangkat dengan menggunakan mobil Toyota Avanza, saya sampai pada rumah tujuan sekitar pukul 9.00 di malam hari. Kebisingan mobil rasanya belum hilang dari kedua kupingku, namun tuan rumah telah memanjakanku dengan suguhan jagung rebus lengkap dengan teh hangatnya. Ya, kebetulan rumah tujuan adalah tak lain merupakan keluarga yang terpisah merantau sejak puluhan tahun yang lalu. Tentunya, salah satu tujuanku ke Kampung inipun sebagai bentuk silaturrohim untuk mempererat kembali hubungan keluarga yang seakan di ujung tanduk karena terpisah oleh jarak.

Suasana keluarga ini nampak gembira dengan kedatanganku. Diawali dengan bercanda gurau bersama, dan saling menanyakan kabar keluarga yang telah lama merindu. Suasana semakin akrab dengan saling memperlihatkan beberapa foto keluarga. Mereka memperlihatkanku foto momen dimana gadis perempuannya, Kartini, dipersanding oleh seorang lelaki yang tidak jauh dari rumahnya. Akupun memperlihatkan beberapa foto keluarga dekatku yang kebetulan saya simpan dalam folder laptopku. Rupanya, mereka masih sangat mengenali raut wajah keluarga yang kuperlihatkan melalui foto itu.

Setelah beristrahat separuh malam, kini telah nampak secercah cahaya fajar dari ufut timur. Sorak adzanpun dikumandangkan seraya memanggil hamba yang masih tertidur pulas. Akupun terbangun dan bergegas membasuh air wudhu, lalu mendatangi masjid, tempat adzan dikumandangkan.

Selepas bersujud dan berdo’a, tak lama kemudian mentari mulai menampakkan sinarnya. Dan mulailah nampak keindahan Kampung Labuaja yang diselimuti hawa yang masih terjaga akan kesejukannya. Di sekeliling Kampung, nampak kehijauan hutan yang masih terjaga akan kerindangannya.

Suasana yang masih pagi, Kampung ini masih sepi dari aktivitas warga. Aku kemudian mencoba menelusuri jalan setapak Kampung ini. Di tengah perjalanan, terlihat jalan kecil yang menurut perkiraanku adalah jalan menuju persawahan. Rasa penasaran sayapun muncul dan ingin melewati jalan itu. Akhirnya, dengan melewati jalan itu, keindahan Kampung ini semakin nampak. Hamparan persawahan yang berlarik-larik terlihat begitu elegan dengan warna khasnya yang hijau.

Dan ada lagi satu keistimewaan yang sepertinya luput dari perhatian masyarakat ataupun pemerintah. Di tengah persawahan yang begitu luas, mengalir sebuah sungai yang sangat luas. Airnya yang deras dan jernih menjadikan sungai ini menarik bagi pecinta diving. Ditambah lagi dengan pinggiran sungai yang bersih dipenuhi bebatuan kecil, membuat sungai ini cocok jadi tempat wisata. Inilah menurutku merupakan Subjek keindahan Kampung ini. Namun sayang, sungai ini belum dikenal luas, dan akses jalan pun belum memadai, sehingga butuh perhatian pemerintah untuk dapat menjadikan sungai ini penarik wisatawan.
Kini, matahari telah berada 90 derajat tepat di atas kepalaku. Dan usai sudah perjalananku di Kampung Labuaja. Namun petualanganku tak berhenti di sini. Setelah menghadap sang Khalik dengan bersujud empat rakaat waktu dhuhur, Aku kemudian berbalik arah dan hendak bertolak ke salah satu kampung yang terletak di Kecamatan Simbang. Sekali berlayar pantang biduk surut ke pantai. Sekali berpetualang, tak cukup satu tempat tujuan.
Ya, Lembang, adalah nama kampung yang saya tuju. Sebuah kampung yang terletak diatas puncak gunung dengan ketinggian kira-kira 800 MDPL. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk mencapai Kampung ini yang berjarak kira-kira 10 kilometer dari jalan Poros Maros. Selain jalanan yang terjal, tikungan tajam dan bebatuan menjadi tantangan tersendiri untuk dapat sampai pada Kampung ini. Bahkan, hanya separuh jalan yang dapat ditempuh menggunakan mobil, selebihnya terpaksa harus berjalan kaki. Sungguh, butuh perjuangan keras untuk dapat sampai di kampung ini.
Setelah menikmati lika-liku perjalanan, akhirnya sayapun sampai pada tempat tujuan. Dari atas Kampung ini, tampak pusat Kota Makassar dari kejauhan. Di atas Kampung ini pula, keindahan hutan semakin jelas dengan paparan gunung terbentang dekat.
Saya kemudian mencoba mencari tahu apa saja yang unik dari Kampung ini. Saya mendatangi beberapa rumah dan kemudian menjumpai seorang nenek yang sudah sangat tua. Lalu saya mencoba mendekati dan bercakap dengannya. Lantas saya menanyakan tahun kelahirannya, namun ternyata dia tidak mengetahuinya. Keriput wajahnya yang sangat, dan tubuhnya yang sudah mengecil, menggambarkan nenek ini sepertinya telah berusia lebih dari se-abad. Ditambah lagi dengan sejumlah cucunya yang telah beranak menguatkan penaksiranku bahwa nenek ini lahir sekitar tahun 1910-an. Meskipun sangat tua, namun pendengaran maupun penglihatan nenek ini masih normal.
Ah, telah seharian menelusuri Kampung Labuaja dan Kampung Lembang. Mentari pun seakan tersipu malu hendak bersembunyi di tempat terbenamnya. Kini saatnya aku kembali ke Kota Makassar. Bersiap melanjutkan rutinitasku sebagai Mahasiswa dan Aktivis Tuhan di Senin pagi. Dan telah banyak hikmah yang kupetik dari petualanganku menelusuri dua kampung unik ini. Hingga akhirnya kusemakin tersadar, betapa luas hamparan bukti kekuasaan sang Khalik yang telah mendesain bumi ini untuk dinikmati bersama. Kupatut bersujud kepadamu dan berucap ‘Alhamdulillah…..’

Makassar, 2 Januari 2015


Tidak ada komentar:

Posting Komentar