Jumat, 12 Desember 2014

Si Tukang Tambal Ban yang Dermawan

Ketika itu, jumat 12 desember 2014, saya hendak berangkat ke kampus. Saya berangkat menggunakan motor buntut saya yang usianya cukup tua dengan keluaran tahun 2002. Saya memakainya dan telah berjalan beberapa puluh meter dari halaman rumah. Namun rasanya ada yang aneh dengan motorku. Setirnya tidak begitu seimbang dan bannya serasa oleng oleng. Saya kemudian berhenti dan menengok ke ban belakang dan ternyata ban belakang motorku sudah tidak berangin. Dengan terpaksa saya harus membawanya ke bengkel tambal ban.
Sayapun mendorongnya sejauh beberapa ratus meter lalu kemudian mendapatkan bengkel yang bersedia menambal ban motorku itu. Dia adalah seorang bapak tua yang umurnya kira kira 40 tahun keatas. Diapun segera membukanya, dan memeriksa kondisi ban tersebut. Setelah diperiksa dengan meniupkan angin dan menenggelamkannya pada seember air, ternyata sobekan ban itu sudah cukup parah hingga tak memungkinkan lagi untuk di tambal. Akhirnya dengan terpaksa saya harus memutuskan untuk menggantinya dengan ban baru. 
Setelah si pemilik bengkel mengambilkan ban barunya sayapun kemudian bertanya harga ban tersebut. "Empat puluh lima ribu," jawabnya. Lalu kemudian saya melirik isi dompetku yang ternyata tersisa empat puluh ribu. Saya lantas sedikit bingung dan berkata "pak, uang ku hanya empat puluh ribu." Bapak tua itu kelihatan bingung karena dia sudah terlanjur membongkar ban motorku namun ternyata uang ku tidak cukup untuk membayarnya.
Sembari tersenyum saya kemudian menatapnya kembali dan bertanya "adakah yang lebih murah pak, yang mencukupi uang ku ini?" Dengan wajah yang sedikit kesal dia menjawab "tidak ada." Saya akhirnya pasrah, dengan dua pilihan yang terbenak dalam pikiranku, meminta bapak itu tetap mengerjakan dengan ketentuan kekurangan uang saya akan saya bayar lain waktu dengan bersedia menitip barang jaminan jika dia minta, atau pilihan kedua saya terpaksa mendorong kembali motor saya dalam keadaan tanpa ban dalam. Saya kembali menatap bapak itu dan berniat mengutarakan apa yang ada dalam benakku itu. Namun, tanpa terduga, bapak itu mengihlaskan kekurangan uang saya dan segera memasang ban baru itu yang biasanya dia jual dengan harga Rp.45.000. Saya lantas kemudian ingin memperjelasnya dengan bertanya "tidak apa apa uang saya hanya empat puluh ribu pak?" Dengan wajah yang tulus dia menjawab pertanyaanku "tidak apa apa." 
Ban baru itu pun segera dipasang olehnya menggantikan ban dalam motorku yang telah sobek parah. Sambil menunggu hingga selesai, saya mengirimkan pesan singkat melalui BBM kepada rekan saya di kampus meminta agar saya dimintakan ijin terlambat oleh dosen karena kejadian ini. Waktu itu jadwal mata kuliahku adalah Mekatronika yang diajarkan oleh bapak Muh. Nurdin ST., MT., dosen akrabku. Teman teman saya cukup pengertian dan melaksanakan permintaan saya tersebut. 
Berselang waktu beberapa menit, akhirnya ban dalam baru itu telah dipasang oleh si bapak yang dermawan itu. Saya kemudian membayarnya dangan selembar uang 20 ribu dan dua lembar uang 10 ribu. Si bapak tukang tambal ban yang dermawan itu mengambil uang yang saya uluran dengan tangan kananku. Selanjutnya saya mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya kepada bapak itu dan melemparkan senyuman kepadanya. Diapun menjawab ucapan terima kasihku dengan ucapan "sama sama," dan membalas senyum ikhlasku dengan senyuman yang mengharukan. Lalu kemudian saya pamit dan memberikannya salam kehormatan dengan merunduk sebagai bentuk kesopananku. Saya lagi lagi kagum melihat melihat kebaikan tukang tambal ban yang satu ini, yang mana umumnya orang berpikir panjang memberikan sesuatu kepada orang yang tidak dikenalnya. Bukannya saya berlebih lebih memberikan sanjungan, akan tetapi saya bisa berkata seperti ini kerena banyak pengalaman saya yang lain ketika saya menjumpai kesulitan namun sangat jarang menjumpai ada orang uang betul betul ikhlas membantu. Semoga saja orang yang seperti bapak tukang tambal ban yang tadi selalu mendapat berkah dan hidayah dari Allah swt.
Itu sedikit cerita saya mengenai si tukang tambal ban yang dermawan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar