Minggu, 10 Maret 2019

Catatan di balik klinik

Senin, 11 maret 2019.

Tubuh mengisyaratkanku untuk dimanjakan. Sejenak istrahat dari rutinitas dan kesibukan. Tidur lebih awal, bangun agak kesiangan, makan lebih teratur, dan tidak memikirkan banyak hal.

Pukul 09.42, aku duduk di sebelah kanan perempuan berbobot di atas rata-rata. Usianya kuperkirakan sekitar 28 tahunan. Di sebelah kananku adalah tiang penopang sebuah klinik. Sembari mengetik tulisan ini. Demikian aku menunggu antrian pemeriksaan. Tujuanku adalah dokter umum. Di depanku adalah apotik. Di sana, pasien satu persatu mengambil resep obat yang diberikan dokter. Itupun setelah menunggu antrian. Mungkin juga aku, setelah diperiksa dokter nanti.

Sakit adalah bagian dari roda kehidupan. Tidak ada satu manusiapun di dunia ini tidak mengalaminya. Kecuali Raja Kafir Fir'aun, sebagaimana termaktub dalam kitab suci Al-qur'an. Di mana masa hidupnya tidak pernah sakit. Namun demikian, laknat jahannam adalah ganjaran baginya sebab kekafirannya terhadap Pencipta. Ia pun mati dalam keadaan hina, bahkan bumi menolak tubuhnya. Hingga kini, jasadnya masih utuh.

Sakit juga bisa bermakna ujian. Tentu ujian ini ada imbalannya, jika kita mampu melewatinya dengan bersabar. Sebagaimana ujian di sekolahan, jika lulus maka akan mendapat predikat rangking, atau naik kelas satu tingkat di atasnya. Begitupun dengan ujian sakit. Allah punya tujuan di balik ujian ini. Dalam beberapa riwayat disebutkan, barangsiapa diberi cobaan sakit, lalu ia bersabar, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Demikian hikmah dari sakit. Jadi, mungkin saja kita punya dosa di mata Allah, namun kita belum sempat bertaubat atas dosa itu. Atau, dosa kita ini memang belum pantas untuk di ampuni. Nah, dengan sakit adalah cara Allah agar dosa-dosa yang telah kita perbuat itu terhapus dengan otomatis.

Karenanya, sakit bukan alasan untuk mengeluh. Justru sakit adalah alasan untuk menambah syukur kita pada Allah. Sakit adalah tenda kecintaan Allah kepada hambanya. Jika pernah dengar cerita Nabi Ayyub, tentu kita akan lebih menerima akan hikmah daripada sakit.

Kesimpulannya, apapun keadaan kita, baik sakit apalagi sehat, kata syukur jangan pernah hilang dari batin dan lisan kita. Karena dengan bersyukur semua akan terasa nikmat dan baik baik saja.