Sabtu
sore, 31 Januari 2015. Hari itu saya kembali ingin menelusuri jejak kekuasaan
Tuhan yang maha luas. Sasaran saya kali ini adalah Kampung Labuaja. Sebuah
kampung dengan panorama yang indah nan sejuk. Kampung ini terletak di Desa
Layya, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros.
Selepas
menyelesaikan tugas final test di Kampus, sepertinya petualangan kali ini
memang pas sebagai bentuk refreshing. Mengembalikan kejernihan otak yang selama
kurang lebih 3 minggu terakhir terkuras. Belum lagi proses penyelesaian tugas
akhir yang sudah di depan mata, membuat saya harus memanfaatkan momen libur
musim ini sembari meresapi bukti kuasa tuhan yang terpapar luas di Kampung
Labuaja.
Berangkat
dengan menggunakan mobil Toyota Avanza, saya sampai pada rumah tujuan sekitar
pukul 9.00 di malam hari. Kebisingan mobil rasanya belum hilang dari kedua
kupingku, namun tuan rumah telah memanjakanku dengan suguhan jagung rebus
lengkap dengan teh hangatnya. Ya, kebetulan rumah tujuan adalah tak lain merupakan
keluarga yang terpisah merantau sejak puluhan tahun yang lalu. Tentunya, salah
satu tujuanku ke Kampung inipun sebagai bentuk silaturrohim untuk mempererat
kembali hubungan keluarga yang seakan di ujung tanduk karena terpisah oleh
jarak.
Suasana
keluarga ini nampak gembira dengan kedatanganku. Diawali dengan bercanda gurau
bersama, dan saling menanyakan kabar keluarga yang telah lama merindu. Suasana
semakin akrab dengan saling memperlihatkan beberapa foto keluarga. Mereka memperlihatkanku
foto momen dimana gadis perempuannya, Kartini, dipersanding oleh seorang lelaki
yang tidak jauh dari rumahnya. Akupun memperlihatkan beberapa foto keluarga
dekatku yang kebetulan saya simpan dalam folder laptopku. Rupanya, mereka masih
sangat mengenali raut wajah keluarga yang kuperlihatkan melalui foto itu.
Setelah
beristrahat separuh malam, kini telah nampak secercah cahaya fajar dari ufut
timur. Sorak adzanpun dikumandangkan seraya memanggil hamba yang masih tertidur
pulas. Akupun terbangun dan bergegas membasuh air wudhu, lalu mendatangi
masjid, tempat adzan dikumandangkan.
Selepas
bersujud dan berdo’a, tak lama kemudian mentari mulai menampakkan sinarnya. Dan
mulailah nampak keindahan Kampung Labuaja yang diselimuti hawa yang masih terjaga
akan kesejukannya. Di sekeliling Kampung, nampak kehijauan hutan yang masih
terjaga akan kerindangannya.
Suasana
yang masih pagi, Kampung ini masih sepi dari aktivitas warga. Aku kemudian
mencoba menelusuri jalan setapak Kampung ini. Di tengah perjalanan, terlihat
jalan kecil yang menurut perkiraanku adalah jalan menuju persawahan. Rasa
penasaran sayapun muncul dan ingin melewati jalan itu. Akhirnya, dengan
melewati jalan itu, keindahan Kampung ini semakin nampak. Hamparan persawahan
yang berlarik-larik terlihat begitu elegan dengan warna khasnya yang hijau.
Dan ada
lagi satu keistimewaan yang sepertinya luput dari perhatian masyarakat ataupun
pemerintah. Di tengah persawahan yang begitu luas, mengalir sebuah sungai yang
sangat luas. Airnya yang deras dan jernih menjadikan sungai ini menarik bagi
pecinta diving. Ditambah lagi dengan pinggiran sungai yang bersih dipenuhi
bebatuan kecil, membuat sungai ini cocok jadi tempat wisata. Inilah menurutku
merupakan Subjek keindahan Kampung ini. Namun sayang, sungai ini belum dikenal
luas, dan akses jalan pun belum memadai, sehingga butuh perhatian pemerintah
untuk dapat menjadikan sungai ini penarik wisatawan.

Kini,
matahari telah berada 90 derajat tepat di atas kepalaku. Dan usai sudah
perjalananku di Kampung Labuaja. Namun petualanganku tak berhenti di sini.
Setelah menghadap sang Khalik dengan bersujud empat rakaat waktu dhuhur, Aku
kemudian berbalik arah dan hendak bertolak ke salah satu kampung yang terletak
di Kecamatan Simbang. Sekali berlayar pantang biduk surut ke pantai. Sekali
berpetualang, tak cukup satu tempat tujuan.
Ya, Lembang,
adalah nama kampung yang saya tuju. Sebuah kampung yang terletak diatas puncak
gunung dengan ketinggian kira-kira 800 MDPL. Butuh waktu sekitar 1,5 jam untuk
mencapai Kampung ini yang berjarak kira-kira 10 kilometer dari jalan Poros
Maros. Selain jalanan yang terjal, tikungan tajam dan bebatuan menjadi
tantangan tersendiri untuk dapat sampai pada Kampung ini. Bahkan, hanya separuh
jalan yang dapat ditempuh menggunakan mobil, selebihnya terpaksa harus berjalan
kaki. Sungguh, butuh perjuangan keras untuk dapat sampai di kampung ini.
Setelah
menikmati lika-liku perjalanan, akhirnya sayapun sampai pada tempat tujuan.
Dari atas Kampung ini, tampak pusat Kota Makassar dari kejauhan. Di atas
Kampung ini pula, keindahan hutan semakin jelas dengan paparan gunung
terbentang dekat.
Saya
kemudian mencoba mencari tahu apa saja yang unik dari Kampung ini. Saya
mendatangi beberapa rumah dan kemudian menjumpai seorang nenek yang sudah
sangat tua. Lalu saya mencoba mendekati dan bercakap dengannya. Lantas saya
menanyakan tahun kelahirannya, namun ternyata dia tidak mengetahuinya. Keriput
wajahnya yang sangat, dan tubuhnya yang sudah mengecil, menggambarkan nenek ini
sepertinya telah berusia lebih dari se-abad. Ditambah lagi dengan sejumlah
cucunya yang telah beranak menguatkan penaksiranku bahwa nenek ini lahir
sekitar tahun 1910-an. Meskipun sangat tua, namun pendengaran maupun
penglihatan nenek ini masih normal.

Ah,
telah seharian menelusuri Kampung Labuaja dan Kampung Lembang. Mentari pun seakan
tersipu malu hendak bersembunyi di tempat terbenamnya. Kini saatnya aku kembali
ke Kota Makassar. Bersiap melanjutkan rutinitasku sebagai Mahasiswa dan Aktivis
Tuhan di Senin pagi. Dan telah banyak hikmah yang kupetik dari petualanganku
menelusuri dua kampung unik ini. Hingga akhirnya kusemakin tersadar, betapa
luas hamparan bukti kekuasaan sang Khalik yang telah mendesain bumi ini untuk
dinikmati bersama. Kupatut bersujud kepadamu dan berucap ‘Alhamdulillah…..’
Makassar, 2 Januari 2015