Minggu, 10 Januari 2016

INI, SEPOTONG ROTI UNTUKMU. AMBILLAH!

Assalamu 'alaikum, Sahabat Blogger
Sejak beberapa bulan terakhir, boleh dikata the grace telah vakum dari postingan. Maklumlah, akhir akhir ini saya lagi sibuk benget. Jarang buka laptop. Terlebih berdiam lama mengetik. Belum lagi ide menulis yang pasang surut, bahkan kadang tak pernah pasang hehehehe.

Namun kali ini, saya kembali tergugah untuk kembali aktif di dunia Blogger alias Blogspot. Kaya percintaan saja tergugah hahaha. Ya begitulah. Karena tidak tahu mau menulis apa, jadi asal-asalan saja menulis. Yang penting the grace bisa kembali aktif dan terhindar dari kata Vakum.

Nah karena belum ada ide yang lebih kreatif, sementara keinginan untuk memposting sesuatu di blog ini terus menggebu, saya manfaatin aja tulisan yang pernah aku posting di Fans Page Facebook-ku. Ya, Fans Page. Namanya adalah Pena Sang Pengembara yang saya baru buat sekitar dua bulan lalu. Isinyapun masih asal-asalan. Setidaknya ada sensasi baru di dunia Facebook.

Daripada lama-lama dan bertele-tele, sampai membuat rekan blogger bosan, dan akhirnya menekan tombol Foreward, langsung saja. Berikut adalah cerita yang berjudul INI, SEPOTONG ROTI UNTUKMU. AMBILLAH!

*******

Senin, 14 Desember 2015. Siraman gerimis menyertai perjalananku sore itu. Ditambah lagi kecamuk perut yang meminta jatah makanan dariku. Menjadikan alasan kuatku, untuk mampir pada sebuah toko kecil di pinggir jalan. Sebut saja "gadde-gadde," warung kecil dalam istilah Makassar.

Sembari berteduh sejenak, membiarkan hujan yang kuperkirakan hanya sebentar, aku membeli dua potong roti. Dua lembar uang pecahan Rp.2000, kutarik dari saku celana kananku. Satu lembar aku gunakan membayar roti tersebut, satunya aku kembalikan pada saku celanaku. Ya, rasanya aku tak sanggup menghabisinya jika kubelikan semua.

Perkiraanku tapat, tak lebih 1 menit, hujan yang tadinya gerimis, kini berhenti total. Ah, aku lanjutkan perjalanan, hari telah senja. Aku belum sempat menikmati roti yang baru saja kubeli. Aku pikir, nampaknya aku tak boleh lama-lama hingga hujan turun lagi. Aku harus pergi sekarang.
Aku menaiki motorku, dan bersiap melaju. Satu roti aku masukkan ke dalam saku jaketku, satunya lagi aku genggam di tangan kiri. Hmm... maklum, kelaparan. Ya, aku tahu, makan dengan tangan kiri, terlebih sambil jalan, sebenarnya tidak dianjurkan. Tapi apa boleh buat, cacing perut mulai berteriak.
Gigi persneling telah masuk, tiba-tiba seorang gadis cilik menghampiriku. Dia melototiku, lalu pandangannya beralih pada sepotong roti yang aku pegang. Tak bersuara apa-apa, tak mengatakan apapun. Tatapannya begitu serius, tertuju pada roti yang kurencanakan akan kusantap sebentar lagi. Hmmm... Aku tahu maksudnya. "Ini dik, sepotong roti ini untukmu. Ambillah!" Aku menyodorkan roti itu, dan kubiarkan senyumku tertuju padanya.

Sekata tak terucap olehnya, ia lantas membelakangiku. Ia melirik seorang ibu-ibu di belakangnya. Mungkin perempuan itu adalah ibunya, perkiraanku. Ia mungkin belum mengerti berterimakasih, namun tak apa, sama sekali aku tak mengharapkan ucapan syukur darinya. Karena aku memaklumi, usianya masih belia. Bagiku, yang terpenting adalah aku bisa memberinya dengan rasa ikhlas.
---
Dalam hidup, adakalanya kita harus mengikhlaskan sesuatu yang merupakan milik kita. Ingatlah, di dalam harta kita ada hak orang lain. Sebiji kurma yang hendak kita makan, pun tak sepantasnya kita habiskan sendiri, membiarkan seorang yang ada di samping kita kelaparan. Ingat pula, hidup bagaikan roda berputar. Adakalanya kita berada di puncak, adakalanya kita harus menahan beban saat berada di bawah. Dalam menjalani hidup, tak selamanya kita dalam kondisi tercukupi, bahkan adakalanya kita membutuhkan orang lain untuk menyuapi kita.

Seorang yang selalu bersedekah takkan membuat dirinya melarat. Ingatlah janji Alloh dalam kitabnya yang menjelaskan akan melipatgandakan sedekah kita menjadi 700 kali lipatan. Gambarannya, sebiji pohon ditanam dan tumbuh bertangkai tujuh. Setiap tangkainya mengeluarkan 100 biji buah, sehingga kesemuanya menjadi 700 buah.

Lihatlah, orang yang miskin dan sangat miskin, bukan karena sngking seringnya infak, sedangkan orang kaya raya dan sejahtera bukan karena tidak pernah infak dan sedekah. Justru infak atau sedekah membuat hati tenang, dan harta menjadi berkah. Sesungguhnya, kaya hati, mengalahkan kaya harta yang tidak berkah.

2 komentar: