Rabu, 25 Maret 2015

Sehat Itu Luar Biasa

Sehat itu nikmat terbesar kedua yang Alloh berikan kepada hambanya.
Namun terkadang kita lupa. Lupa akan nikmat yang luar biasa ini. Lupa memaksimalkan kesempatan yang diberikan untuk bertaqorrub ilalloh, 'mendekatkan diri pada Alloh.' Hingga pada saatnya kita sakit, tak hanya makan yang seperti menelan duri, bernafas pun seakan ditengah ledakan asap.

Saat itu, kita akan selalu dibayang-bayangi kubur nan gulita, dan diselimuti kekhawatiran akan siksa jahannam yang membara. Saat itu pula kita akan menyesal. Menyesali kebodohan diri menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan. Hingga berharap mendapat kesempatan kedua, namun itu tak pasti.

Apalah arti penyesalan, jika sakaratulmaut sudah di ambang tenggorokan. Malaikat isroil sudah berdiri di depan pintu kamar. Menunggu detik detik kepastian maut yang telah tercatat di lauhil maf'uz. Tak ada lagi kesempatan, melainkan kata laailahaillalloh 'tidak ada Tuhan kecuali Alloh.'

Melihat akan hal itu, tentu kita bisa mencermati. Hidup ini untuk apa, dan sehat harusnya kita berbuat apa. Mati tidak menunggu kapan kita siap, tapi kita harus siap menunggu datangnya mati.

"Tulisan ini saya buat setelah sekian hari ini saya pulang balik menjaga dan menengok keluarga yang sedang terbaring di rumah sakit. Semakin aku tersadar, sehat bukan nikmat yang kecil, tapi merupakan pemberian yang patut kita syukuri."
Makasar, 23/3/2015;07:08